Tadabbur Surat Al-‘Ashr – Jangan Sampai Kita Rugi

Ceramah Masjid | 2026

Mukadimah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberi kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat yang sering kita anggap biasa… nikmat waktu.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, manusia terbaik yang setiap detik hidupnya bernilai ibadah.

Jamaah yang dirahmati Allah…

Malam ini kita tidak membahas surat yang panjang. Kita tidak membahas hukum yang berat. Kita hanya akan duduk bersama tiga ayat.

Tiga ayat yang sering kita hafal sejak kecil. Tiga ayat yang sering kita baca dalam shalat. Tapi mungkin… belum kita rasakan dalam hidup.


Ayat Pertama: Allah Bersumpah Dengan Waktu

Allah berfirman:

وَالْعَصْرِ
Demi masa.

Jamaah sekalian… ketika Allah bersumpah, itu bukan hal kecil. Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang sangat besar nilainya.

Kenapa Allah bersumpah dengan waktu?

Kenapa bukan dengan harta? Kenapa bukan dengan kekuasaan? Kenapa bukan dengan umur panjang?

Karena waktu adalah modal hidup kita.

Harta bisa hilang dan kita cari lagi. Jabatan bisa lepas dan kita perjuangkan lagi. Tapi satu detik yang lewat… tidak pernah kembali.

Coba kita bayangkan…

Kemarin sudah pergi. Besok belum tentu kita miliki. Yang kita punya hanya hari ini.

Tapi seringkali hari ini pun kita sia-siakan.


Renungan Tentang Waktu

Jamaah yang dirahmati Allah…

Coba kita jujur dalam hati.

Berapa usia kita hari ini? 30 tahun? 40 tahun? 50 tahun?

Rasanya baru kemarin kita kecil. Baru kemarin kita sekolah. Baru kemarin kita merasa hidup masih panjang.

Tiba-tiba sekarang rambut mulai memutih. Orang tua kita menua. Anak-anak kita tumbuh besar.

Waktu berjalan tanpa suara.

Ia tidak berisik. Ia tidak mengetuk pintu. Tapi ia mencuri umur kita sedikit demi sedikit.

Dan Allah bersumpah dengan itu.

“Perhatikan waktu kalian… sebelum habis.”

Ayat Kedua: Semua Manusia Rugi

Allah lanjutkan:

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.

Perhatikan penegasannya.

Inna — sungguh.
Lafi — benar-benar.
Khusrr — kerugian besar.

Allah tidak berkata “mungkin rugi”. Allah tidak berkata “sebagian manusia rugi”. Allah berkata: manusia.

Artinya hukum asal kita ini rugi.

Kenapa rugi?

Karena setiap hari umur kita berkurang. Setiap hari kita mendekati kematian.

Kita merasa usia bertambah… padahal sebenarnya jatah hidup kita berkurang.

Setiap ulang tahun bukan bertambah hidup. Tapi berkurang sisa hidup.


Kisah yang Menggetarkan

Disebutkan dalam kisah para ulama terdahulu…

Ada seorang pemuda yang hidupnya biasa saja. Ia tidak dikenal sebagai orang shalih. Ia juga bukan ahli ilmu.

Suatu hari ia mendengar seseorang membaca:

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Ia terdiam. Ayat itu menusuk hatinya.

Ia berkata dalam dirinya:

“Kalau Allah mengatakan manusia rugi… apakah aku termasuk yang rugi?”

Sejak hari itu hidupnya berubah.

Ia mulai menjaga waktunya. Ia mulai bangun sebelum Subuh. Ia mengurangi obrolan sia-sia. Ia mendekat kepada Al-Qur’an.

Ketika ditanya apa yang membuatmu berubah?

Ia menjawab:

“Aku takut termasuk manusia yang Allah sebut rugi.”

Jamaah sekalian… tiga ayat bisa mengubah hidup seseorang. Pertanyaannya… apakah malam ini bisa mengubah kita?


Ayat Ketiga: Empat Jalan Keselamatan

Allah tidak membiarkan kita dalam ketakutan. Allah memberi solusi.

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا
Kecuali orang-orang yang beriman.

Iman bukan sekadar pengakuan lisan. Iman harus hidup di hati. Iman harus mempengaruhi keputusan kita.

وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Dan beramal shalih.

Iman tanpa amal tidak cukup. Kita harus bergerak.

Shalat tepat waktu. Berbakti kepada orang tua. Jujur dalam pekerjaan. Menjaga pandangan. Menjaga lisan.

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
Saling menasihati dalam kebenaran.

Jangan hanya selamat sendiri. Ajak keluarga. Ajak teman. Ajak anak-anak kita.

وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Saling menasihati dalam kesabaran.

Karena istiqamah itu tidak mudah.


Refleksi Pribadi

Jamaah yang dimuliakan Allah…

Coba kita renungkan malam ini.

Berapa waktu yang sudah kita habiskan untuk hal yang tidak bernilai?

Berapa jam untuk scrolling? Berapa jam untuk obrolan sia-sia? Berapa jam untuk marah? Berapa jam untuk dunia?

Lalu berapa waktu untuk akhirat?

Kalau Allah putuskan malam ini adalah malam terakhir kita… apakah kita siap?

Ini bukan untuk menakut-nakuti. Ini untuk menyadarkan.


Penutup yang Menggetarkan

Hidup ini singkat.

Kuburan tidak melihat usia. Ia menerima yang muda dan yang tua.

Yang membuat manusia selamat bukan panjangnya hidup… tapi berkahnya hidup.

Maka selama kita masih diberi waktu…

Perbaiki shalat. Perbaiki hubungan dengan orang tua. Perbanyak istighfar. Isi waktu dengan yang bernilai.

Karena suatu hari nanti… waktu yang kita sia-siakan akan kita tangisi.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang tidak merugi.

Semoga sisa umur kita menjadi umur terbaik kita.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.